APA YANG SEDANG KITA HADAPI?

Baca berita ekonomi global, gak ada satupun kabar baik. Semua indikator mengarah ke resesi panjang. Inflasi mulai terjadi dimana-mana.

Tappering dan perubahan global supply chain, yang sebelumnya karena perang dagang kemudian diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina, menjadi faktor pemicu utama. Resesi panjang ini kemudian akan memicu gejolak politik di banyak negara. Dan sudah ada korbannya.

Tappering sebagai langkah yang diambil oleh The Fed memang dimaksudkan untuk mengendalikan inflasi. Tapi kelihatannya, injeksi likuiditas yang konon telah mencapai $ 100 T selama pandemi, terlanjur menyebabkan inflasi di beberapa negara yang kemudian menjalar ke semua negara.

Injeksi likuiditas besar-besaran jika tidak dibarengi dengan peningkatan produktifitas akan menghasilkan inflasi yang tak terkendali. Demand naik tinggi karena orang sedang pegang uang, tapi barang yang mau dibeli hilang karena tak ada produksi. Harga barang sudah pasti naik!

Belum lagi dari sisi produksi, terganggu oleh macetnya jalur supply karena invasi Rusia ke Ukraina. Kedua negara ini adalah penghasil gandum terbesar. Isu soal kelaparan akhirnya meningkat. Karena gandum bahan pokok untuk membuat roti, mie dll.

Lawatan Presiden Jokowi kemarin ke Ukraina dan Rusia, lebih untuk menyelesaikan sumbatan jalur supply gandum, alih-alih urus perdamaian antar kedua negara. Karena yang penting buat Indonesia ya gandum. Soal kepedulian terhadap korban perang cuma gimmick buzzer.

Namun dalam konteks mendorong kepentingan nasional kita, langkah Presiden Jokowi patut mendapat apresiasi. Karena pada resesi panjang ini, semua negara akan berpikir untuk diri sendiri. Aliansi-aliansi global sudah tumpul. Ukraina jadi bukti sahih, aliansi barat kebingungan.

Statement Henry Kissinger tak bisa dianggap enteng, dia menyarankan negara-negara barat merelakan Ukraina untuk diambil Rusia. Cuma itu jalan untuk mengakhiri krisis. Kisingger, pemikir sekaligus pelaku geopolitik paling serius dalam kurun 100 tahun terakhir yang dimiliki dunia.

Ketika awal pandemi, semua negara melakukan lockdown, ekonomi dunia dipaksa mengalami kontraksi. Transaksi hilang dari pasar. Semua orang khawatir terjadi stagflasi. Negara-negara besar melakukan quantitative easing, obligasi diobral ke bank central. Indonesia juga melakukannya.

Agar uang yang telah dicetak itu diserap oleh pasar, bank-bank central menurunkan suku bunga, bahkan negara besar menerapkan ‘zero rate’ alias suku bunga 0. BI sendiri menurunkan rate hingga 3,75%, lalu mencetak uang sampai 500 T. Kemana uang-uang hasil QE itu mengalir?

Uang segar itu mengalir ke pihak yang mampu menyerap bunga rendah namun mampu menjaminkan collateral yang punya value tinggi. Yang bisa melakukannya ya orang-orang berpunya yang selama ini aset-aset mereka mengendap. Mengalirlah uang itu ke bank, venture capital lalu ke start-up.

Karena itu ketika tappering dimulai, banyak start-up kehilangan pembiayaan. Cetak uang berhenti, venture capital sudah tak bisa lagi dapat dana segar, start-up sudah tak bisa lagi bakar uang. Yang tersisa hanya PHK dan tarik fee ke pengguna. Promo? Wassalam!

Muncul pertanyaan; bukannya start-up bakar uang sebelum pandemi?”, betul! Tapi ketika pandemi mereka bakar uang berkali-kali lipat. Dan pesta pun berakhir. Mereka pura-pura lupa kalau nature-nya bisnis itu harus fokus ke generate revenue bukan semata-mata growth.

Jadi kalau disederhanakan, resesi ini terjadi karena imbas tappering yang mengakibatkan USD keluar dari banyak negara termasuk Indonesia. USD pulang ke AS karena disana rate bunga acuan sudah tidak 0. Lalu global supply terganggu berakibat kelangkaan barang khususnya pangan.

Efek langsung terhadap Indonesia? USD langka pasti demand terhadap USD akan naik. Itu yang mengakibatkan kurs IDR terus melemah, USD makin tinggi. Importir pakai USD untuk beli bawang, cabe dll. Ketika USD nya tinggi, mau gak mau mereka akan jual ke pasar dengan harga tinggi.

Pertamina beli minyak impor untuk diolah jadi pertalite dll, menggunakan USD. Tak heran terjadi pembatasan pembelian, caranya saja yang kelihatan canggih; pakai aplikasi! Kalau harga beli minyak naik karena kurs USD nya naik, subsidi dari negara juga bengkak. APBN jebol!

Tiap liter bensin subsidi yang masuk ke motor dan mobil kita, setengahnya ada uang negara dalam bentuk subsidi yang diambil dari APBN. Jadi, kalau harga dari produsennya naik, lalu kurs USD nya naik, ya subsidi naik, subsidi naik akan mengurangi pos-pos APBN yang lain.

“Kalau begitu kita beli minyak mentah yang tidak pakai USD saja, dari Rusia misalnya?” Tak semudah itu. Secara bisnis dan politik punya kendala. Dari sisi bisnis, ongkos logistik tetap pakai standar USD karena supply minyak biasanya menggunakan FOB.

Lalu disisi teknis, kalau minyak Rusia masuk, kilang-kilang yang ada perlu penyesuaian spesifikasi, itu butuh waktu dan biaya. Yang paling susah disisi politik, urusan energi terlanjur berkiblat pada negara-negara barat. Akan ada konsekuensi yang didapat Indonesia.

Kemudian yang bakal bikin APBN tambah berat karena kenaikan nilai USD adalah bayar utang luar negeri! Di tahun 2021 kemarin, pemerintah membayar bunga utang luar negeri sebesar 373 T. Angka itu hanya bayar bunga saja! Ditengah gencar pembiayaan infrastruktur dll, akan makin berat

Jadi ekonomi Indonesia hingga tahun depan akan rentan mengalami kontraksi. Jika tak dikelola dengan baik, kita akan ikut terseret masuk kedalam resesi panjang global. Ukuran negara bangkrut itu sederhana; sudah tidak bisa bayar utang yang jatuh tempo.

Pemerintah punya dilema serius. Rasio pajak sebagai sumber penting pendapatan negara masih dibawah 10%, yang terendah di Asia Tenggara. Satu-satunya jalan adalah terus mencetak utang. Tapi dengan kondisi nilai tukar yang tinggi, pasti hal itu adalah langkah yang amat menantang.

Efisiensi mutlak harus dilakukan. Harusnya pembiayaan infrastruktur fokus pada yang mendesak saja. Yang ada hubungannya sama proyeksi politik ditunda dulu. Pembangunan infrastruktur harus memiliki nilai tambah langsung pada kenaikan angka pertumbuhan ekonomi.

Setelah efisiensi pada pembiayaan infrastruktur, pemerintah harus fokus pada jaring pengaman sosial. Bansos dalam bentuk cash harus ditambah. Kalau tidak, jumlah orang yang turun kelas akan membesar dan itu berbahaya bukan hanya bagi ekonomi tapi pada gejolak sosial dan politik.

Buat individu, ditengah ketidakpastian global ini. Mengedepankan sikap berhemat paling utama. Menjaga cash menjadi pilihan penting. Jika ingin investasi, masuklah pada kelas aset yang memiliki resiko rendah dengan likuiditas yang tinggi. Bukan kripto atau properti.

Mengejar keuntungan investasi pada situasi seperti saat ini sebisa mungkin dihindari. Fokus pada minimalisir resiko. Kalau mau taruh uang ke dalam instrumen investasi apapun, pastikan dulu dana pokok-nya tidak hilang. Baru menghitung margin. Jangan tergoda tawaran margin tinggi.

Hanya produktifitas yang akan menjamin kehidupan ekonomi berangsur-angsur membaik. Karena ketika menghasilkan sesuatu entah itu barang atau jasa, akan tercipta transaksi. Akumulasi transaksi akan menciptakan pasar. Pasar hidup, ekonomi hidup. Jadi tetaplah produktif! -END-

From : https://twitter.com/muhfikriaziz/status/1544470680770531329?s=21&t=yJlaD86fAclNMmlq7p7E4A

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s